Karama.id – Donggala, Pemerintah Desa Bale, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, terus memperkuat komitmennya dalam upaya percepatan penurunan stunting melalui berbagai program terpadu yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat. Beragam kegiatan tersebut dipusatkan di Kantor Desa Bale, Sabtu (27/6/2026), sebagai bagian dari langkah membangun generasi yang lebih sehat dan berkualitas.
Kegiatan diawali dengan pelaksanaan Rembuk Stunting Desa, yang menjadi forum koordinasi untuk menyusun strategi bersama dalam menekan angka stunting di wilayah tersebut. Hadir dalam kegiatan itu Pemerintah Desa Bale, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Tim Penggerak PKK, kader Posyandu, Pemerintah Kecamatan Tanantovea, Puskesmas Malambora Wani, serta akademisi dari Universitas Tadulako (Untad).

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Untad, Dr. Ir. Sagaf, M.P., yang hadir sebagai narasumber menekankan pentingnya sinergi seluruh elemen masyarakat dalam mencegah stunting sejak dini. Menurutnya, persoalan stunting tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, tetapi membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Kepala Desa Bale, Adam, mengatakan rembuk tersebut menghasilkan pemetaan kondisi stunting di desa, penyusunan rencana tindak lanjut, serta komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung percepatan penurunan stunting.
“Melalui rembuk ini kami menyamakan persepsi dan menyusun langkah bersama agar program penanganan stunting berjalan lebih terarah, terukur, dan tepat sasaran,” ujarnya, Kamis (2/7/2026).
Usai rembuk stunting, Pemerintah Desa Bale melanjutkan kegiatan dengan inovasi desa berupa pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dan pemberian tablet tambah darah kepada 48 remaja putri. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Desa Bale bersama Pemerintah Kecamatan Tanantovea, Puskesmas Malambora Wani, Tim Penggerak PKK, kader kesehatan, serta mahasiswa Jurusan Kimia Untad.
Adam menjelaskan, pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri menjadi langkah preventif untuk mencegah anemia yang merupakan salah satu faktor risiko lahirnya anak stunting.
“Kami berharap upaya pencegahan stunting dimulai sejak usia remaja agar calon ibu memiliki kondisi kesehatan yang baik sebelum memasuki masa kehamilan,” katanya.
Selain intervensi di bidang kesehatan, Pemerintah Desa Bale juga terus mengembangkan program ketahanan pangan keluarga melalui kebun PKK dan kebun yang tersebar di setiap dusun. Berbagai tanaman obat keluarga (TOGA) dan sayuran ditanam untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
Hasil panen dari kebun tersebut secara rutin dibagikan kepada keluarga yang berisiko stunting serta anak-anak yang mengalami stunting di lima dusun di Desa Bale sebagai bentuk dukungan terhadap pemenuhan gizi masyarakat.
Komitmen tersebut turut diperkuat melalui inovasi desa bertajuk “Chating deng Tari” (Cegah Stunting dengan Telur Setiap Hari) yang telah dijalankan sejak 2023. Program ini mendorong pemenuhan kebutuhan protein bagi anak-anak dan keluarga sasaran sebagai bagian dari upaya menurunkan prevalensi stunting secara berkelanjutan.
Menurut Adam, berbagai program yang dijalankan menunjukkan bahwa penanganan stunting tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan gizi, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan sejak usia remaja hingga masa kehamilan.
“Kami berharap berbagai program yang dilaksanakan secara berkelanjutan ini mampu menekan angka stunting di Desa Bale sekaligus menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas,” pungkasnya. *














